Showing posts with label linux. Show all posts
Showing posts with label linux. Show all posts

Monday, October 19, 2020

Virtual Keyboard Aksara Jawa dengan PyGObject (Python3 + GTK3)

Aksara Jawa merupakan aksara Nusantara yang umum dipakai di pulau Jawa pada abad 15 hingga awal abad 20. Aksara Jawa sebenarnya diturunkan dari aksara Brahmi India dan aksara Kawi dengan beberapa penyesuaian.

Aksara yang biasa disebut hanacaraka ini sudah resmi terdaftar di Unicode sejak tahun 2009 yang menempati kode blok U+A980 hingga U+A9DF. Bahkan dalam font family Noto Sans buatan Google sudah ada font Noto Sans Javanese yang mendukung penulisan aksara tersebut. Sayangnya, pengaturan keyboard dengan metode input untuk aksara Jawa belum tersedia di settingan desktop yang saya pakai. Jika ingin menulis beberapa karakter aksara Jawa, saya biasanya memakai teknik ribet dengan mengambil karakter tersebut dari character map dengan cara double-click tiap karakter.

Berawal dari ketidaknyamanan tersebut, saya mencoba membuat sendiri alat bantu semacam virtual keyboard dengan bahasa pemrograman python dan GTK3 untuk tampilan GUI nya. PyGObject sendiri adalah library yang menghubungkan python3 dengan GTK3. Sebenarnya program ini belum layak disebut virtual keyboard karena output tulisannya hanya ditampilkan di text entry program secara internal, jadi tidak bisa dipakai untuk mengetik langsung di text editor, melainkan harus pakai cara copy-paste.

Program ini langsung bisa dijalankan di GNU/Linux dengan lingkungan desktop Gnome 3 dan Xfce 4.14 karena GTK3 dan python3 sudah pre-installed di dalamnya. Simpan script di folder /home lalu panggil script lewat Terminal dengan perintah: python3 nama_script.py . Untuk pengguna Windows 10 dan MacOS silakan baca dokumentasi pyGObject di https://pygobject.readthedocs.io/en/latest/getting_started.html . Di situ sudah dijelaskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk bisa menjalankan script python dengan pyGObject.

Program ini masih jauh dari sempurna. Bagian transliterasinya masih kacau jika kebetulan ada karakter yang dimasukkan pada urutan yang tidak semestinya. Setidaknya dengan virtual keyboard ini saya cukup menyentuh atau klik sekali saja untuk menuliskan tiap karakter.

Bagi yang tertarik ingin mencoba dan menyempurnakan program ini, python script-nya bisa diunduh dari sini. Harap dimaklumi jika logika codingnya masih bertele-tele dan menyalahi konvensi penulisan, karena basic saya memang bukan programmer.



PS: Font yang saya pakai namanya Tuladha Jejeg, bisa diunduh di https://sites.google.com/site/jawaunicode/download .

Saturday, July 13, 2019

GNOME di Balik Layar Bioskop


Menonton film di bioskop sudah menjadi tren dan bagian dari gaya hidup jaman ini. Sebagai penonton kepo, terkadang saya tidak bisa menahan keinginan untuk mencari tahu bagaimana proses distribusi film hingga sampai ke bioskop-bioskop lokal dalam waktu yang hampir bersamaan dan sebenarnya media apa yang dipakai untuk bisa menghasilkan kualitas gambar yang tetap detail meskipun diproyeksikan ke layar berukuran jumbo. Dan pengalaman saya menonton film The Hustle di XXI kemarin mununtun saya untuk menemukan secercah jawaban dari sebagian teka-teki di atas.

Biasanya sambil menunggu filmnya mulai, penonton akan disuguhi sejumlah iklan atau trailer film terbaru yang akan segera tayang. Nah, tidak seperti biasanya, kemarin saya mengalami momen kaget ketika tepat sebelum filmnya diputar. Hanya selama sepersekian detik, di layar sempat muncul penampakan janggal seperti di bawah ini.



Ya, betul. Itu adalah tampilan desktop GNOME 2 jadul yang biasa terpasang di sistem operasi Oracle, GNU/Linux atau freeBSD. Pertanyaan yang kemudian mengusik pikiran saya adalah mengapa harus Gnome 2 yang dipakai? Setelah browsing sana-sini, akhirnya pencerahan pun berhasil saya dapatkan dari forum kaskus dan wikipedia.

Ternyata format file multimedia yang bisa dibaca mesin proyektor digital di bioskop-bioskop - seperti Cinema 21, XXI, CGV, Platinum Cineplex - adalah DCP (Digital Cinema Package) atau biasa disebut composition dalam industri perfilman. Jadi bukan yang format .mp4,.mov,.avi ataupun .vob yang biasanya ada di dalam kepingan DVD. Paket berformat DCP ini berisi track gambar ukuran 2K hingga 4K yang dikompresi menggunakan JPEG 2000 dan track audio WAV multichannel yang tidak dikompresi (24-bit linear PCM). Jadi bisa dipastikan ukurannya akan jauh lebih besar beberapa kali lipat dari format film standar seperti mp4.

Nah, film yang sudah dalam bentuk DCP (biasanya sudah dienkripsi untuk menghindari penyalinan berkas secara ilegal) ini nantinya akan di-ingest (disalin) ke media penyimpanan (hard disk) server di bioskop yang biasanya menggunakan format filesystem jenis EXT2 atau EXT3 agar bisa dibaca proyektor. Di sinilah sumber pencerahannya. EXT2 dan EXT3 adalah filesystem native yang dipakai di OS berbasis GNU/Linux. Sebagai perbandingan, MacOS memakai filesystem native APFS, OS Windows 7-10  memakai NTFS, freeBSD sekarang memakai ZFS. Jadi, tidak ada yang aneh dan sangat masuk, Pak Eko, jika desktop GNOME dan GNU/Linux sedang aktif bekerja dibalik layar ketika para penonton duduk manis sambil mengunyah popcorn.

Selamat menonton.

Saturday, May 27, 2017

Cara Mengatasi Sinyal Lemah pada Wi-fi Adapter Realtek RTL8723BE di Fedora (GNU/Linux)

Ada yang aneh waktu kemarin memasang OS Fedora 25 di laptop HP 14am514TU. Dengan versi kernel 4.10 semua hardware berfungsi dengan lancar kecuali wi-fi. Entah kenapa sinyal yang diterima begitu lemah. Bahkan ketika berada hanya 3 meter dari router, sinyal yang tertangkap hanya 50% saja.

Setelah browsing sana-sini, akhirnya ketemu juga cara mengakalinya di blog milik Mas Angga Dwi Perdana yang inti solusinya adalah perlu instal driver Realtek rtlwifi terbaru. Driver di atas juga bisa diterapkan pada seri wi-fi adapter Realtek lain seperti rtl8192ce, rtl8192se, rtl8192de, rtl8188ee, rtl8192ee, rtl8723ae, dan rtl8821ae.

Cuma masalahnya tutorial dari Mas Angga diperuntukkan bagi pengguna distribusi Ubuntu yang berbasis Debian, sementara distribusi Linux yang saya pakai berbasis RedHat yang memiliki perbedaan dalam hal manajemen paketnya. Namun karena driver yang akan dipasang berupa file terkompresi .zip (bukan paket .deb) dan harus kompile sendiri paketnya, saya pun beranggapan bahwa langkah-langkah instalasinya tetap bisa diterapkan di Fedora. Setelah dicoba memang benar, proses instalasi sukses. Hanya saja ada 1 parameter yang harus disesuaikan, yaitu penamaan wi-fi saat setting konfigurasi. Jika di Ubuntu wi-fi adapternya terdeteksi sebagai wlo1, maka di Fedora akan terdeteksi sebagai wlp2s0. Jadi saya hanya perlu mengganti “wlo1” dengan “wlp2s0”, selebihnya tinggal copy-paste perintah sesuai petunjuk yang ada. Dan hasil akhirnya, sinyal wi-fi bisa ditangkap full 100%.

Nah, bagi pengguna OS Fedora yang mengalami problem serupa, silakan dicoba langkah-langkah memasang driver terbaru Realtek rtlwifi berikut ini:
1. Buka Terminal
2. Ketik perintah berikut di Terminal untuk cek nama wi-fi adapternya: iwconfig
    Di sistem Fedora, wi-fi adapternya akan muncul dengan nama “wlp2s0”.

3. Download driver wi-fi adapternya di sini : https://github.com/lwfinger/rtlwifi_new/tree/rock.new_btcoex
File-nya berekstensi .zip berukuran sekitar 1.5 Mb saja. Simpan file tersebut dalam direktori Desktop lalu ekstrak file nya.
4. Dari Terminal masuk ke direktori Desktop dengan mengetikkan perintah: cd Desktop
5. Masuk ke folder hasil ekstrak dengan mengetikkan perintah: 
    cd rtlwifi_new-rock.new.btcoex
6. Ketikkan perintah : make
7. Setelah proses selesai, ketikkan perintah : sudo make install
8. Masukkan password user.
9. Masukkan perintah ini : sudo modprobe -rv rtl8723be
10. Ketikkan perintah : sudo modprobe -v rtl8723be ant_sel=2
11. Ketikkan perintah : sudo ip link set wlp2s0 up
12. Ketikkan perintah berikut dalam terminal untuk mencari semua sinyal wifi yang ada : 
         sudo iw dev wlp2s0 scan
13. Agar konfigurasi ini dapat digunakan secara permanen, silahkan ketik perintah berikut: 
       echo "options rtl8723be ant_sel=2" | sudo tee /etc/modprobe.d/50-rtl8723be.conf

Wednesday, October 5, 2016

Cara Instal Apache, MySQL, PHP di Fedora 22

Cara Instal Apache, MySQL, PHP di Fedora 22

Artikel ini saya tulis untuk membantu teman-teman yang ingin belajar membangun web server khususnya yang berbasis GNU/Linux. Untuk membangun web server ada empat komponen utama yang harus dipasang. Keempat komponen ini biasanya disingkat LAMP (Linux, Apache, MySQL, PHP). Dengan asumsi bahwa di mesin teman-teman sudah terinstal Linux, maka saya hanya akan membahas cara memasang 3 komponen lainnya, yaitu Apache, MySQL, dan PHP.

Setiap distribusi Linux memiliki jenis manajemen paket aplikasi yang berbeda, sehingga untuk menginstal suatu paket dibutuhkan perintah yang berbeda pula. Perlu dicatat bahwa distribusi (baca: distro) Linux yang saya pakai untuk tutorial ini adalah Fedora, salah satu distribusi yang dikembangkan oleh Fedora Project dan disponsori oleh perusahaan RedHat. Sebagai tambahan informasi, Fedora versi 22 dirilis bulan Mei 2015 lalu. Sejak versi 22, secara default Fedora memakai metode manajemen paket baru bernama DNF, menggantikan metode sebelumnya yang bernama YUM. Sebenarnya tutorial ini bisa juga diterapkan di Fedora versi selanjutnya dan distribusi turunannya seperti Kororā 22 (distro asal Australia) dan IGOS Nusantara 11 (distro asal Indonesia yang disponsori LIPI) karena kedua distro yang saya sebut tadi juga berbasis Fedora dan memakai sistem manajemen paket yang sama.

Sebelum memulai proses instalasi, silakan nyalakan dulu mesin Linux anda dan satu hal yang paling penting, pastikan sistem bisa terhubung ke Internet. Jika anda memakai Fedora server tanpa GUI, maka bisa langsung login. Jika anda memakai Fedora versi desktop, setelah login silakan buka aplikasi bernama Terminal yang tampilannya seperti di bawah ini.


Dari terminal ini kita akan mengetikkan perintah-perintah 'ajaib' untuk menginstal dan menjalankan aplikasi. Jangan lupa tekan ENTER setelah menuliskan setiap perintah ya.

Langkah 0: Update sistem

Untuk menghindari masalah dependensi paket yang mungkin terjadi, sebaiknya perlu dilakukan update sistem terlebih dahulu dengan mengetikkan perintah:
sudo dnf update

Sebagai catatan, proses update ini bisa memakan waktu sebentar atau lama tergantung kecepatan Internet dan jumlah paket yang diunduh. Jika anda sering melakukan update secara teratur, paket yang diunduh akan relatif sedikit.

Langkah 1: Instal Apache

Apache adalah aplikasi yang berfungsi sebagai web server. Untuk memasangnya, silakan ketik perintah ini di terminal:
sudo dnf install httpd

Untuk menjalankan Apache, ketik perintah ini:
sudo systemctl start httpd.service

Untuk mengecek apakah Apache sudah terinstal dengan benar, silakan buka web browser dan masuk ke IP address server (Misal: http://12.34.56.798) . Jika muncul halaman default Fedora berarti instalasi berhasil.
Untuk mengetahui IP address server, ketikkan perintah ini:
ifconfig eth0 | grep inet | awk '{ print $2 }'

Langkah 2: Instal MySQL/MariaDB

MySQL adalah aplikasi sistem manajemen database yang dipakai untuk mengolah dan memanggil data yang tersimpan di server virtual. MariaDB merupakan versi pengembangan terbuka dan independen dari MySQL.
Untuk memasang MySQL, ketik perintah:
sudo dnf install mysql mysql-server

Untuk menjalankannya, ketik:
sudo systemctl start mariadb.service

Setelah instalasi, buat password root MySQL dengan mengetikkan perintah:
sudo /usr/bin/mysql_secure_installation

Akan muncul perintah seperti ini:
Enter current password for root (enter for none):

Karena baru memakai MySQL pertama kali, maka password root belum ada. Langsung saja tekan ENTER.

OK, successfully used password, moving on…

Fedora secara otomatis akan membuat settingan MySQL. Ikuti saja perintahnya. Jika muncul pertanyaan jawab Y saja.

Langkah 3: Instal PHP

PHP adalah bahasa pemrograman web yang banyak dipakai untuk membangun halaman web dinamis.
Untuk memasang PHP, ketik perintah ini:
sudo dnf install php php-mysql
Lalu jawab Y saja jika muncul pertanyaan.

Untuk mengecek modul/library PHP apa saja yang tersedia untuk dipasang, ketik perintah ini:
dnf search php-
Untuk mengetahui lebih detil fungsi dari masing-masing modul, silakan ketik perintah:
dnf info nama_modul_yang _tersedia

Untuk menginstal modul yang dipilih, ketik:
sudo dnf install nama_modul_yang_akan_diinstal

Beberapa modul bisa diinstal sekaligus dengan cara memisahkan nama modul dengan spasi. Misal:
sudo dnf install modul1 modul2 modul3

Sampai tahap ini LAMP (Linux, Apache, MySQL, PHP) sudah terpasang. Untuk mengatur supaya aplikasi berjalan otomatis begitu server dihidupkan, ketik perintah berikut:
sudo chkconfig httpd on
sudo chkconfig mariadb on

PHP tidak perlu diatur, karena secara otomatis akan dijalankan juga ketika Apache-nya berjalan.

Langkah 4: Cek PHP di server

Meskipun LAMP terinstal di server virtual, komponen-komponennya masih bisa dicek secara online dengan membuat 'quick PHP info page'. Untuk membuat info page ini, instal dulu text editor NANO dengan perintah:
sudo dnf install nano
Lalu buat file dengan nama info.php dengan perintah berikut:
sudo nano /var/www/html/info.php

Tambahkan 3 baris berikut pada file:
<?php
phpinfo();
?>

Simpan file (tekan Ctrl+O lalu tekan Enter) dan keluar dari text editor (tekan Ctrl+X).
Restart Apache dengan perintah:
sudo systemctl restart httpd.service

Sekarang buka web browser dan buka info pagenya di:
http://12.34.56.789/info.php
(Ganti alamat IP dengan punya anda)

Selamat belajar dan jangan takut mencoba sesuatu yang baru.


Diterjemahkan dari artikel Ryan Quinn (digitalocean.com) dengan beberapa penambahan.






Wednesday, September 10, 2014

Pemkot Munich: Kembali lagi ke Windows? Kenyataannya Tak Semudah Itu

Pemerintah Kota Munich, Jerman mengatakan bahwa dilakukannya peninjauan ulang terhadap sistem teknologi informasinya tidak dipicu oleh ketidakpuasan para pegawai setelah melakukan migrasi dari sistem operasi Windows ke Linux, meskipun ada laporan yang menyatakan demikian.

Pemerintah kota Munich telah menunjukkan pada dunia bahwa sebuah organisasi yang memiliki ribuan pegawai bisa meninggalkan Windows dan beralih ke Linux dan perangkat lunak bebas.

Ketika proyek migrasi selesai akhir tahun lalu, sekitar 15 ribu pegawai di pemerintahan Jerman telah bermigrasi ke Limux, yaitu sebuah sistem operasi turunan dari Ubuntu Linux dan OpenOffice.

Masalahnya, apakah usaha migrasi pemerintah ke open source ini akan dihentikan dan kembali lagi ke Microsoft?

Tidak, kata pemerintah, meskipun banyak laporan yang menyatakan demikian. Menurut juru bicara pemerintah, Stefan Hauf, kabar yang mengatakan bahwa dewan kota menyarankan untuk meninggalkan Linux itu tidak benar.

Beliau menyatakan walikota baru yang diangkat belum lama ini, Dieter Reiter, memberi mandat untuk membuat  laporan mengenai  sistem teknologi informasi yang diterapkan di kotanya.

"Walikota yang baru telah meminta pihak administrasi untuk mengumpulkan fakta-fakta sehingga kami bisa membuat keputusan dan membuat proposal kepada dewan kota tentang langkah yang perlu diambil selanjutnya di masa mendatang", kata beliau.

"Tidak hanya masalah Limux, tapi juga masalah IT secara keseluruhan. Menyangkut pengelolaannya, biaya, performa dan kemanfaatannya serta kepuasan pengguna."

Penelitian yang dilakukan staff IT pemerintah kota yang bersangkutan tersebut akan mempertimbangkan sistem operasi dan paket perangkat lunak apa, baik yang bersifat bebas & terbuka ataupun yang berbayar, yang bisa memenuhi kriteria. Penelitian ini tidak seperti yang pernah dikabarkan sebelumnya, yang hanya berfokus pada masalah apakah perlu meninggalkan Limux dan kembali lagi ke Windows, kata beliau.

Belum ada keputusan mengenai nasib penggunaan Limux dan perangkat lunak bebas di pemerintah kota selanjutnya. Keputusan akan diambil setelah peninjauan ulang selesai dilakukan.

"Belum ada keputusan karena, pertama, kami harus membaca hasil laporannya dulu baru bisa mengambil keputusan," katanya. Beliau juga menambahkan bahwa peninjauan ulang ini tidak dipicu oleh adanya ketidakpuasan dengan Limux tapi untuk meninjau kembali langkah yang perlu diambil selanjutnya setelah migrasi ke Limux selesai dilakukan.

Keluhan dari staff pegawai pemkot mengenai Limux tarafnya masih wajar, kata Hauf, keluhan utamanaya berhubungan dengan masalah kompatibilitas dokumen dengan format .odt yang dipakai di OpenOffice dengan software yang dipakai oleh pihak di luar pemkot. Pemkot Munich berharap bisa meringankan masalah ini dengan menganjurkan pengguna Open Office memperbaharui software-nya dengan memakai LibreOffice terbaru yang lebih kompatibel dengan Microsoft Office.

Belum ada kepastian tanggal berapa tinjauan ulang ini akan selesai yang menurut Hauff masih dalam tahap permulaan. Jika hasilnya nanti tidak jelas, mungkin akan dilakukan tinjauan ulang kedua oleh para ahli dari luar pemkot.

Dilakukannya migrasi ke Limux waktu itu juga disebabkan oleh tinjauan ulang serupa yang dilakukan pada awal tahun 2000-an, yang mempertimbangkan perlunya pergantian sistem operasi dari Windows NT ke XP dan dari versi Ms.Office yang lebih baru ke GNU/Linux, OpenOffice, dan software bebas lainnya.

Pada dasarnya, software bebas dipandang sebagai pilihan yang lebih baik oleh pemerintah Munich karena akan membebaskan pemerintah dari ketergantungan terhadap penyedia software berbayar sekaligus bisa menerapkan aturan, membuat antar-muka, dan memakai format data yang lebih terbuka.

Perlunya memiliki kebebasan yang lebih luas inilah yang dijadikan semangat penggerak proyek migrasi tersebut, kata Peter Hofmann, orang yang mengepalai proyek Limux, kepada TechRepublic tahun lalu.

"Migrasi bukanlah tujuan utama di kota Munich ini. Tujuan utama kami adalah kemerdekaan," katanya.

.......


Sumber artikel : http://www.techrepublic.com/article/no-munich-isnt-about-to-ditch-free-software-and-move-back-to-windows/
Ditulis oleh Nick Health, 19 Agustus 2014
Diterjemahkan oleh Yobi Sardiyanto

Sunday, May 19, 2013

Belajar Kosakata Baru dari Linux



Berawal dari keterbatasan spesifikasi Netbook pertama saya yang hanya dibekali prosesor singlecore 900 Mhz, RAM 1 Gb, dan SSD 8 Gb, akhirnya saya kenal dan bisa bersentuhan langsung dengan yang namanya Linux. Setelah bosan dengan tampilan OS bawaannya, Linux Xandros, saya mulai mencari-cari OS pengganti yang lebih enteng dan bisa diutak-atik. Dengan spesifikasi seperti yang saya sebut tadi, Windows 7 jelas tidak mungkin bisa diinstall, sementara Windows XP juga berjalan klemak-klemek. Akhirnya saya coba menginstall Ubuntu 9.04 (Jaunty) dan langsung jatuh hati. Ubuntu adalah nama salah satu distro Linux yang dikelola oleh Canonical yang berbasis di Eropa. Sejak itu saya tetap setia memakai Linux sampai sekarang meski sering gonta-ganti distro juga.

Percaya atau tidak, ternyata memakai Linux itu secara tidak langsung akan meningkatkan kosakata Bahasa Inggris. Di samping terbiasa mengetik perintah di terminal (kalu di Windows namanya Command Prompt) yang semuanya memakai Bahasa Inggris (head, tail, who, echo, date, cp, mv, rm, halt, dan lain-lain), saya juga rajin ikut tanya-jawab di forum global di Internet jika mengalami masalah atau ada kesulitan saat menginstall driver. Selain itu, saya menjumpai istilah-istilah khusus yang tidak pernah dijumpai di Windows OS. Berikut ini ada beberapa kata yang saya pikir terdengar unik dan tentu saja anda perlu tahu artinya.

Fedora

Fedora adalah nama salah satu distro (distributor) Linux asal Amerika Serikat yang didukung oleh Redhat. Secara literal, fedora berarti topi yang biasa dipakai para detektif atau mafia Italia di film-film. Bentuknya seperti topi yang dipakai detektif di logo Redhat.

Daemon

Daemon adalah sebutan untuk program autorun yang bekerja terus-menerus di background untuk mengatur permintaan layanan tertentu di Internet. Secara literal daemon (demon) berarti iblis.

Kernel

Kernel adalah inti (core) dari suatu sistem operasi. Linux sendiri sebenarnya adalah nama kernel. Secara literal, kernel berarti biji (biji kacang, sawo, dll).


Trash

Trash adalah sebutan untuk Recycle Bin di desktop Linux. Secara literal artinya sampah.

Halt

Halt adalah perintah untuk mematikan sistem (shutdown). Secara literal, halt berarti berhenti atau menghentikan.

Swap

Swap adalah nama salah satu partisi yang ada di Linux. Fungsinya hampir sama dengan virtual memory di Windows. Secara literal, swap berarti bertukar atau tukar-menukar.

Dependency

Dependency adalah nama paket software yang harus diinstall terlebih dahulu sebelum menginstall suatu software. Secara literal, dependency artinya ketergantungan, atau sebutan untuk suatu negara yang diatur oleh negara lain.

Audacity

Audacity adalah nama aplikasi di desktop Linux yang bisa dipakai untuk mengedit dan memanipulasi file audio seperti halnya CoolEdit Pro di Windows. Secara literal, audacity berarti keberanian.

Gnome

Gnome adalah nama salah satu desktop environment yang bisa digunakan di Linux. Selain Gnome, ada banyak desktop environment alternatif seperti KDE, Xfce, Lxde, Openbox, dan Enlightenment. Secara literal, Gnome berarti orang kerdil atau kurcaci seperti yang ada di cerita Putri Salju.

Virtual Keyboard Aksara Jawa dengan PyGObject (Python3 + GTK3)

Aksara Jawa merupakan aksara Nusantara yang umum dipakai di pulau Jawa pada abad 15 hingga awal abad 20. Aksara Jawa sebenarnya dit...